GP Ansor: Pencemaran Sungai di Jembayan Harus Segera Diatasi

Bagikan Artikel
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Hingga Februari 2014, para petani keramba masih kesulitan memelihara ikan mas. Ikan mas banyak yang mati.

Sungai yang mengalir di daerah Jembayan kecamatan loa kulu kabupaten kutai kartanegara telah tercemar limbah plasma sawit. Sehingga menyebabkan para petani keramba mengalami kerugian yang sangat besar karena ikan-ikannya banyak yang mati dalam beberapa bulan terakhir.

Kepastian tercemarnya sungai di Jembayan yakni Sungai Lambonang hingga sekitar muara Sungai Mahakam tersebut dikemukakan Kepala Badan Lingkungan Hidup Daerah (BLHD) Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), Ahmad  Taufik Hidayat.

“Setelah kita ambil sampel di beberapa titik di Sungai Lambonang menuju ke Sungai Mahakam, hasil lab (analisa laboratorium, red) menunjukkan bahwa kandungan COD (Chemical Oxygen Demand, red) dan BOD (Biochemical Oxygen Demand, red) melebihi baku mutu air,” ungkap Taufik, belum lama ini (5/2).

Menurut Taufik, pencemaran itu ada indikasi disebabkan oleh penebangan pohon atau land clearing plasma perusahaan sehingga menyebabkan air bangar. “Hasil lab ini kemudian kami bawa ke Asisten I Setkab Kukar untuk dilakukan pembahasan selanjutnya,” kata Taufik sembari menyebut bahwa pihaknya belum mengetahui perusahaan yang telah menyebabkan pencemaran.

Sementara itu, Ketua Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Kutai Kartanegara, Hadi Purnomo didampingi Wakil Ketua Bidang Lingkungan Hidup, Amins, mengapresiasi hasil kerja Pemkab Kukar terutama BLHD yang telah meneliti terkait pencemaran Sungai di Jembayan.

Temuan itu, kata Hadi, harus segera ditindaklanjuti dengan menelusuri biangkerok pencemaran. Setelah ditemukan si pembuat ulahnya, pemerintah harus segera menekan agar bertanggung jawab untuk mengembalikan baku mutu air seperti sedia kala. Selain itu kerugian yang dialami masyarakat, terutama para petani keramba yang Ikan peliharaannya banyak mati segera diganti rugi.

“Dari laporan beberapa pengurus kelompok tani keramba di Jembayan, ikan-ikan keramba mulai banyak yang mati sudah sejak tiga bulan lamanya, sebelum air bangar terjadi. Itu artinya ada indikasi bahwa perusahaan-perusahaan batu bara yang beroperasi di sekitar Jembayan menjadi biangkeroknya pencemaran air,” kata Hadi kepada Kalpost di Sekretariat GP Ansor Kukar, kemarin.

Keberadaan operasi tambang batu bara yang pengeloaan limbahnya tidak baik, dapat menyebabkan tercemarnya sungai, kandungan logam besi berat semakin banyak sehingga organisme yang hidup di sungai terancam mati.

”Salah satu contohnya adalah ikan para petani keramba. Sejak pencemaran terjadi, angka kematian sangat tinggi. Bahkan untuk ikan mas kemungkinan hidupnya sampai panen hanya berkisar satu persen. Makanya sekarang, petani keramba di Jembayan tidak ada yang memelihara ikan mas lagi,” ungkap Hadi.

Sekarang, lanjut dia, para petani keramba lebih memilih ikan nila yang kemungkinan hidupnya lebih tinggi dengan air sungai yang tercemar itu. Dari laporan para petani keramba yang diterima GP Ansor Kukar, angka kematian ikan nila hanya berkisar di antara 30-40 persen.

“Padahal untuk komoditas ikan mas lebih menjanjikan. Para petani bisa panen dalam waktu tiga bulan, sedangkan ikan nila enam bulan. Ini kan berarti merugikan petani. Belum lagi ikan-ikan peliharaan yang dahulu banyak mati. Penyebab pencemaran harus bertanggung jawab,” papar Hadi.

Pihaknya mendengar, bahwa para petani keramba sebelumnya telah mengadukan persoalan tersebut ke perusahaan tambang yang ada di sekitar Jembayan. Namun tawaran ganti ruginya sangat kecil. “Menurut masyarakat, salah satu perusahaan tambang, PT Astaminindo dan Bara Kumala Sakti adalah yang paling bertanggung jawab. Tapi, sampai sekarang belum sama sekali melakukan ganti rugi,” kata Hadi.

Untuk itu, GP Ansor Kukar mendesak agar Pemkab Kukar segera mencari akar masalahnya. Jika ternyata pencemaran karena pengolahan limbah perusahaan tambang yang buruk, maka pemerintah harus menindak.

“Saya dengar perusahaan tambang di sana banyak yang tidak punya settling pond (kolam pengolahan limbah tambang, red), jadi air limbah langsung lari ke Sungai Lambonang. Jika ini benar, harus ditindak. Sehingga para petani keramba dapat berusaha seperti sedia kala,” pungkas Hadi. []


Bagikan Artikel
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Leave a Reply